Opini

Tertarik Berlibur ke Rumah Sakit?

Horee, libur telah tiba! Libur telah tiba! Hore, hore, hore!

Masih ingat dengan lagu anak-anak itu? Kalau tidak salah ingat, lagu itu dinyanyikan oleh Tasya Kamila. Cukup populer waktu itu. Generasi 80-90-an. Jika masih ingat, berarti Anda sekarang sudah masuk 30 tahunan lebih. Sudah tua? Eits, tua atau tidaknya itu tergantung persepsi masing-masing, sih. Dan, cukuplah lagu itu jadi kenangan masa kecil. Sebab kita tahu bagaimana Islam memandang hukum musik ‘kan? 

Kegembiraan karena liburan itu wajar kok. Betapa tidak, rutinitas kerja yang cukup menyiksa, kerja dari Senin sampai Jum’at, bahkan ditambah dengan lembur, orang akan berpikir untuk liburan saja. Mungkin ke pantai, ke gunung, danau, atau tempat wisata lainnya. Apalagi ketika di kalender beberapa hari tanggal merah. Hem, nyummy!

Namun, itu kapan ya? Apakah dalam waktu sekarang ini? Saya yakin, banyak dari Anda yang menjawab tidak! Ya, memang tidak. Kondisi sangat berbeda, karena sedang dalam masa pandemi alias covid-19. Mau orang menamai dengan Mbak Corona, Tante Corona atau siapapun, tetaplah corona atau covid-19 itu adalah virus berbahaya.

Masa liburan adalah momen orang berkumpul. Bukankah memang berlibur paling menyenangkan kalau banyak orang? Entah itu bersama keluarga, tetangga, teman atau bahkan mantan, maksudnya mantan majikan, membuat liburan jadi lebih menyenangkan. Jika liburan sendiri, sungguh tidak asyik. Liburan sendiri dan tempatnya sepi, maka silakan liburan saja ke kuburan. Bila tempat berlibur makin banyak orang, kita akan semangat.

Misalnya saja ke pantai. Beberapa mobil bisa dipakai oleh rombongan kita sendiri. Eh, rupanya bertemu dengan rombongan lain. Akhirnya jadi macet dan perjalanan pun jadi lambat sekali. Mungkin lebih cepat bekicot berjalan daripada laju mobil kita.

Baca Juga  Kekuasaan Tanpa Kemuliaan*

Setibanya di pantai, ada yang langsung berenang, ada yang sebagian menyiapkan makanan. Menyewa beberapa gubuk, menyajikan aneka ragam makanan di situ. Ah, pokoknya semua serba kebersamaan. Tertawa-tawa ceria. Pulang pun dalam kondisi hati yang berbinar-binar.

Berpikir Lebih Dalam

Namun, itu dulu. Maksudnya, kondisi yang bisa bebas dijalani sebelum adanya si corona ini. Sekarang, mau liburan, kita mesti berpikir ulang. Tidak cukup berpikir seribu kali, bahkan mesti dengan sejuta kali kalau memang perlu.

Salah satu yang harus menjadi pertimbangan, lebih cermat daripada timbangan balita di posyandu itu adalah kurva penderita corona masih terus naik. Jika lagunya yang pas naik-naik ke puncak gunung, tinggi-tinggi sekali, nah itu lebih pas untuk jumlah kasus covid-19 di negeri yang kita cintai ini. Bahkan ada dokter yang mengatakan bahwa kita belum mencapai puncaknya lho! Gemah ripah loh jinawi. Kayu yang ditancap di tanah jadi tanaman. Saking suburnya tanah kita, eh, bisa ikut juga suburnya kasus positif corona di Indonesia.

Berkali-kali pemerintah mengingatkan untuk selalu mengikuti protokol kesehatan. Pakai masker, rajin cuci tangan, jaga jarak, hindari kerumunan, dan tidak sembarangan sikap ketika batuk maupun flu, sudah berjuta-juta kali ke luar dari instansi yang berwenang. Memang, banyak orang yang abai. Cuek. Acuh tak acuh. Dan, yang paling parah itu menganggap corona ini hanya konspirasi saja. Untuk orang yang terakhir ini, masa harus dengan kena dulu, baru percaya ya?

Apakah protokol kesehatan itu sudah diterapkan di semua tempat wisata atau tempat liburan? Saya kok berkeyakinan belum semua bisa diterapkan. Mungkin yang sudah hanya tempat wisata yang besar-besar saja, yang di kota kecil atau kabupaten jauh dari ibukota provinsi masih ada yang biasa-biasa saja. Masuk, ya, masuk saja, asal sudah bayar tiket masuk, selesai urusan. Perkara mau ada yang tertular di dalamnya, tanggung masing-masing.

Baca Juga  Memanfaatkan Pekarangan Sempit Dengan Budikdamber

Itu baru berlibur ke tempat yang relatif dekat. Bagaimana dengan yang jauh? Kota tempat saya lahir di Jogja, sementara saya sekarang tinggal di Sulawesi Tenggara. Jauh memang, tetapi saya belum mau berpikir untuk liburan pulang kampung ke sana. Sebab apa? Kota Jogja di semua wilayahnya zona merah. Buat apa ambil resiko liburan, tetapi ujungnya bisa penderitaan kalau sampai kena corona?

Mungkin Anda tahu bahwa perjalanan jauh atau safar itu pada dasarnya adalah sepotong azab alias secuil siksaan. Mana ada perjalanan jauh, tetapi ketika sampai tujuan orang masih segar bugar, pakaian rapi, badan tidak lelah? Coba, tidak ada bukan? Sebuah perjalanan pastilah berbuah tidak nyaman, mau tidur tak enak, makan tak nyenyak. Maksudnya yang benar adalah tidur tak nyenyak, makan tak enak. Mual, muntah, atau oleng biasa muncul dalam perjalanan tersebut.

Badan yang tidak fit akan memicu datangnya virus corona bertandang ke tubuh kita. Jadi, alangkah lebih baik untuk selalu bugar dan menjaga diri dari kelelahan yang berlebihan.

Masih Kurang Juga?

Dipikirkan lebih jauh, untuk kondisi saat ini, sebenarnya liburan buat apa sih? Bukankah selama pandemi ini, aktivitas kita dinamakan dengan WFH? Bekerja dari rumah, belajar dari rumah. Sambil rebahan bisa kerja kok, sambil tiduran bisa juga sambil belajar. Tidak ngoyo seperti waktu belum ada covid-19. Tidak kena macet di jalan, tidak panas, tidak kehujanan, piranti untuk bekerja maupun belajar juga sudah ada. Mau cari apalagi? Masih kurang?

Beban kerja yang menjadi sedikit berkurang itu sebenarnya sudah menjadi satu bagian kecil dari rekreasi. Terlebih waktu bersama keluarga jadi lebih banyak, itu juga suatu bentuk kegiatan rekreatif. Bukankah intinya sama saja, berlibur juga berkumpul, di rumah juga berkumpul? Kalau begitu di rumah saja.

Baca Juga  Sektor Perikanan Kolaka Utara: Harapan & Tantangan

Hal yang kita khawatirkan bersama adalah saat ada yang ngeyel untuk tetap liburan, melakukan perjalanan jauh, tetapi bukan inti dari liburan itu yang didapatkan, melainkan saat mulai digerogoti corona. Isolasi di rumah cukup efektif? Belum tentu lho! Ketika kondisi makin memburuk, maka harus dimasukkan ke fasilitas kesehatan, umpamanya rumah sakit. Berarti, bisa dikatakan liburannya ke rumah sakit dong? Itu!

Oleh : Rizky Kurnia Rahman (Kasubbag Teknis Pemilu dan Hupmas, Sekretariat KPU Kabupaten Bombana)

Bagikan :
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *