Editorial Tokoh

Sri Susuhunan Pakubuwana X dan Islam

DURASISULTRA.ID, TOKOH – Diantara raja terbesar Kasunanan Surakarta adalah Sri Susuhunan Paku Buwono (PB) X yang berjasa besar mengembangkan agama Islam di Jawa dan menguatkan sendi-sendi berbangsa dan bernegara menuju kemerdekaan dan kedaulatan negeri tercinta, Indonesia. Sebagai raja sebuah kerajaan yang berdaulat yang memerintah dua pertiga tanah Jawa, dalam rentang waktu yang hampir setengah abad, memainkan peran penting membela hak-hak rakyat dan kehormatan warga bangsa ini  yang telah diinjak-injak, menurut penuturan Tjokroaminoto, hingga sekelas kambing oleh penjajah Belanda.

Kanjeng Susuhunan PB X lahir tanggal 21 Rejeb 1795 atau 29 November 1866. Nama kecilnya adalah Bendara Raden Mas Gusti Sayiddin Malikul Husna. Sejak lahir diambil anak oleh eyang dalem Gusti Kanjeng Ratu Agung, permaisuri PB VI. PB VI (memerintah tahun 1823 – 1830) dibuang Belanda ke Ambon pada tahun 1831 karena membantu perjuangan Pangeran Dipanegara dan wafat dalam usia 42 tahun, karena dieksekusi Belanda di Ambon pada 2 Juni 1849.

Sebagai cucu PB VI, beliau memahami akan kepahlawan eyang dalem yang gigih melawan penjajah dan harus dilanjutkan  sebagai perjuangan membela rakyat dan  tanah airnya. Setelah Perang Dipanegara berakhir tahun 1830, secara praktis bermula penjajahan Belanda di Jawa yang sebenarnya. Untuk pertama kalinya penjajah Belanda mengeksploitasi dan  menguasai Pulau Jawa, dan hampir tidak ada satupun tantangan serius (tidak ada lawan sebanding) terhadap kekuasaan mereka sampai Abad XX.

PB X bertahta di Surakarta Hadiningrat pada tanggal 30 Maret 1893 bertepatan 12 Ramadhan 1310 H dan memerintah hingga wafatnya 22 Pebruari 1939. Beliau adalah putra PB IX. Kawula negari Surakarta memberi gelar Sampeyan Dalem Ingkang Sinuhun Paku Buwono Senopati Ing Ngalaga Ngabdurahman Sayidin Panatagama Hingkang Kaping X. Beliau juga dikenal  sebagai Sultan Abdurahman al-Asyir (X).

Baca Juga  Profil Gus Yaqut: Menteri Agama Lulusan Pendidikan Umum

Sebutan dan gelar “Sayidin Panatagama” dari para raja Islam memiliki makna khusus dan mempunyai kedudukan yang mulia dalam agama Islam. Menurut Babad Tanah Jawa, gelar ini telah ada sejak masa Sultan Fatah bertahta di Kesultanan Demak (1479-1518). Walaupun dimungkinkan bahwa bersatunya gelar Panatagama bagi sultan atau sunan baru terjadi di masa Mataram Islam, karena di masa Demak, gelar ini masih dalam “pemilikan” para Wali Sanga untuk mengarahkan para sultan agar tetap berada dalam bimbingan ajaran agama Islam.

Kanjeng Susuhunan PB X dikenal  sangat dekat  dengan kalangan ulama. Beliau mendirikan lembaga pendidikan Islam formal di lingkungan keraton Kasunanan Surakarta bernama Mambaul ‘Ulum (sumber ilmu) pada tahun 1905.  Beliau ingin membentuk kader-kader ulama, mendidik calon pejabat keagamaan yang ahli.  Sekolah ini diketuai oleh seorang Penghulu Tafsir Anom. Pihak keraton menunjuk Kiai Bagus Arfah untuk memimpin Mambaul Ulum. Para guru yang mengajar diambil dari abdi dalem ulama yang disebut Muallim. Mereka banyak berasal dari lulusan Pesantren Termas Pacitan dan Tegalsari Ponorogo.

Murid-muridnya adalah anak para penghulu, anak ulama, dan anak para guru. Para murid disebut dengan istilah Mutakallim. Mereka tidak hanya berasal dari Solo, tetapi juga banyak dari kota-kota di Jawa Timur. Lama pendidikan 11 tahun, yang dibagi menjadi 11 tingkatan kelas, yaitu: Bagian I disebut Ibtidaiyah dari mulai kelas I-IV, Bagian II (Wusta), dari mulai kelas V-VIII, dan Bagian III (Ngulya) dari mulai IX-XI. Mata pelajarannya berjumlah 15: Al-Qur’an, Tafsir, Hadits, Fiqih, Tauhid, Akhlak, Bahasa Arab, Ilmu Falak, Berhitung, Ilmu Ukur, Seni Rupa, Ilmu Mantiq, Ilmu Mendidik, Bahasa (Jawa, Melayu), dan Tarikh Islam.

Tata tertib dan manajemen Mambaul ‘Ulum disesuaikan dengan sistem pengajaran Belanda, tidak seperti pesantren saat itu, yaitu memakai sistem kelas, memakai papan tulis, dan berijazah. Sekolah ini berkembang pesat dan lulusannya mendapat tempat terhormat di masyarakat. Selain berada di kompleks Masjid Besar Keraton, sekolah tersebut juga berdiri di kota-kota kabupaten sampai kelas IV dan dapat melanjutkan ke jenjang yang lebih tinggi di Surakarta.
Jumlah sekolah Mambaul Ulum di kabupaten ada 7 buah, yaitu: Klaten, Sragen, Boyolali,Wonogiri, Surakarta, Kartasura, dan Sukoharjo. Sekolah berbasis agama Islam ini semakin banyak dan berkembang setelah berdirinya Muhammadiyah tahun 1912. Susuhunan PB X berharap para lulusan Mambaul Ulum merupakan para ulama yang dapat menyebarkan Islam dan pengajaran yang benar tentang ajaran Islam di tengah-tengah masyarakat.

Bagikan :
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *