Kolaka Utara Opini

Sektor Perikanan Kolaka Utara: Harapan & Tantangan

Potensi Pesisir Kolaka Utara yang memanjang dari Utara (Kec. Tolala) ke Selatan (Kec Wawo) pada Pesisir Barat Teluk Bone, merupakan potensi yang sangat besar, yang jika dioptimalkan pemanfaatannya dapat meningkatkan pendapatan dan kesejahteraan masyarakat pesisir yang selama ini diidentikan dengan masyarakat yang termarginalkan dengan tingkat pendapatan terendah, dibandingkan strata masyarakat lainnya

Gambaran Umum

Berdasarkan data Dinas Perikanan Kabupaten Kolaka Utara Tahun 2018, secara keseluruhan terdapat lahan tambak untuk budidaya air payau seluas lebih/kurang 8445 Ha. 6580,8 Ha diantaranya sudah terkelola, dan yang terluas terdapat di Hamparan Pakue Raya dengan luasan total 2408,8 Ha. atau 36,6 persen; meliputi Kecamatan : Watunohu seluas 829,7 Ha, Pakue 841,6 Ha, Pakue Tengah 323,5 Ha, Pakue Utara 192,5 Ha, Batuputih 207,5 Ha, dan Tolala 14,0 Ha.

Dari data luasan tambak yang tergarap atau terkelola tersebut, tanpa mengkesampingkan wilayah lainnya, terdapat dua (2) kecamatan yang sangat menonjol, yaitu Kecamatan Watunohu (829,7 Ha) dan Kecamatan Pakue (841,6 Ha). Dengan demikian, bukanlah merupakan hal yang keliru jika Pemerintah Kabupaten Kolaka Utara memberikan perhatian lebih untuk memprioritaskan Program Peningkatan dan Pengembangan Budidaya Air Payau pada Hamparan Pesisir Watunohu dan Pakue dengan budidaya komoditas ekonomis seperti Udang (windu dan Vanamae), Bandeng, Nila Merah dan Rumput Laut.

Jumlah nelayan/pembudidaya ikan pada hamparan tambak air payau di 2 (dua) kecamatan tersebut adalah 1311 orang atau sekitar 64.29 % dari seluruh pembudidaya air payau dengan jumlah 2039 orang. Kondisi ini mengisyaratkan bahwa, masyarakat pesisir yang ada di kedua kecamatan tersebut telah menjadikan kegiatan di tambak sebagai mata pencaharian utama. Karena itu dibutuhkan sinergitas antara, masyarakat pembudidaya, pemerintah, dan swasta (pihak ketiga) untuk andil berkonstribusi maksimal sesuai kapasitas dan bidang tugasnya masing-masing, sehingga potensi pesisir yang belum optimal ini bisa diakselerasikan pemanfaatannya untuk meningkatkan ekonomi masyarakat pesisir yang pada gilirannya akan berdampak pada peningkatan pendapatan dan kesejahteraan nelayan dan keluarganya demi mewujudkan Kolaka Utara Madani.

Baca Juga  Banjir Kolut, Rendam 15 Rumah Warga dan Hanyutkan Puluhan Ekor Hewan Ternak

Maping Potensi

Potensi sumber daya Alam (SDA) secara sederhana hanyalah merupakan sesuatu yang tersedia secara alami. Ketika Daya Dukung Potensi suberdaya tersebut sudah melebihi dari kapsitas pemanfaatannya oleh manusia, maka saat ini manusia harus mengintervensi alam dengan teknologi yang ramah lingkungan sebagai penyangga pembangunan berkelanjutan.
Karena itu berbagai aspek lingkungan dan karakteristik SDA setempat (on site) harus teridentifikasi rinci untuk menentukan kesesuaian lahan dengan organisme hewan dan atau tumbuhan yang akan direkomendasikan oleh pemangku kebijakan untuk diusahakan (dibudidayakan). Karena untuk tumbuh-kembang optimal, setiap organisme budidaya membutuhkan lingkungan yang berkesesuaian atau/ dan kondusif dengan sifat atau karakter alaminya.

Panjangnya hamparan pesisir Kabupaten Kolaka Utara, memungkinkan terjadinya perbedaan sifat dan karakter lahan. Untuk itu dibutuhkan survey atau kajian akademik terkait kesusuaian lahan yang akan menganalisa struktur dan komposisi substrat, keragaman jenis makrozoobenthos, aspek fisika-kimia tanah dan air. Dari hasil analisis kajian akademik tersebutlah untuk kemudian ditetapkan jenis komoditas budidaya perikanan yang cocok untuk dibudidayakan baik dengan sistem mono-culture, maupun poly-culture. pada zona-zona yg berbeda tersebut.

Paket Teknologi

Secara umum komoditas budidaya air payau yang mempunyai nilai ekonomis penting dan berpotensi untuk dikembangkan/dibudidayakan di tambak, seperti : ikan bandeng, udang, kepiting, dan rumput laut, menghendaki lingkungan hidup yang ideal agar bisa tumbuh kembang secara optimal. Jika secara alami kondisi-kondisi tersebut tidak berkesesuaian, maka dibutuhkan intervensi paket teknologi untuk menciptakan kecocokan jenis hewan/tumbuhan yang dibudidayakan dengan habitat tempat hidupnya. Jika faktor kesesuaian lahan sudah terpetakan, maka akan lebih mudah untuk menentukan/memilih Pola usaha budidaya yang akan kita aplikasikan, akan cukup dengan pola atau sistem tradisional, tradisional plus, semi intensif, ataukah full intensif. Pilihan-pilihan ini juga tentu akan disesuaikan dengan kemampuan investasi dari pembudidaya pemilik atau penyewa lahan tambak. Dalam kaitan tersebut, diantara 3 (tiga) faktor penunjang keberhasilan budidaya tambak, maka faktor penyiapan lahan menjadi penentu dominan, disusul manajemen kualitas air dan bibit, serta pola dan takaran pakan, dan jika pilihannya pada pola semi dan/atau full intensif, maka ketersediaan daya listrik harus diusahakan terpenuhi untuk penggerak fasilitas kincir. Dukungan faktor yang terakhir ini cukup berat untuk dipenuhi oleh banyak pembudidaya. Dengan demikian, pilihan yang sangat obyektif dan memungkinkan adalah pola tradisional plus dengan padat penebaran 80.000 s/d ekor per Ha dengan pemberian pakan di bulan kedua.

Baca Juga  Pembangunan Bandara Kolut Masuk dalam RPJM Nasional

Pilihan Komoditas Budidaya

Secara sederhana menghitung pedapatan dari usaha budidaya tambak tidaklah rumit untuk dilakukan dengan standar ideal berdasarkan tingkat keberlangsungan hidup (survival rate) yang bisa dicapai. Setiap jenis komoditas hewan/tumbuhan budidaya punya nilai ekonomi masing-masing sehingga analisanya tentu akan berbeda dan bervariasi. Normal bahwa komoditas dengan nilai ekonomi yang tinggi berbanding lurus dengan resiko-resiko saat masa pembudidayaan, seperti udang baik vamae maupun windu, apalagi jika itu dilakukan dengan pola intensif. Karena itu banyak diantara pembudidaya tidak berani mengambil resiko kegagalan karena investasi yang digelontorkan tidak sedikit. Pilihan umumnya hanya terbatas pada tradional plus.

Komoditas yang rendah bahkan tanpa resiko kegagalan adalah budidaya ikan bandeng karena bisa mencapai survival rate sampai 90%, tetapi karena waktu (siklus) budidayanya cukup lama sekitar 4 sampai 6 bulan dengan ukuran konsumsi (3 – 4 ekor/kg), ditambah harga jualnya di tingkat pengumpul relatif rendah (hanya berkisar antara Rp 14.000 – Rp. 18.000 ) sehingga tidak berdampak signifikan pada peningkatan pendapatan dan kesejahteraan pembudidaya.

Komoditas ikan yang lain yang sejatinya hidup di air tawar, namun sudah bisa diadaptasi untuk perairan payau dengan salititas toleransi salinitas sampai 10 ppm. Kelebihannya karena nilai jualnya bisa 2 (dua) kali lipat dari harga ikan Bandeng dan dengan siklus budidaya yang lebih singkat (hanya 3 – bulan) sudah bisa dipanen dengan berat 3 – 4 ekor/kg. Tantangannya bahwa belum tersosialisasi luas dan kekhawatiran pasar yang masih terbatas informasinya.

Berikutnya adalah komoditas rumput laut dan kepiting yang bisa menjadi alternatif. Masalahnya, pembudidaya air payau belum terbiasa dan familiar dengan budidaya ke dua komoditas yang juga punya nilai ekonomi yang baik dan cukup tinggi. Itulah salah satu tugas pemangku kebijakan daerah untuk proaktif mensosialisasikannya sekaligus melakukan/membuat demplot dan menelusuri pasarnya. Agar nelayan dan pembudidaya ikan yang mendiami pesisir bisa terangkat derajat kesejahteraannya.

Baca Juga  Lantik Kepala SMAN & SMKN, Kadis Dikbud Sultra: Bangun Kerja Sama dengan Guru, Jangan Pakai Manajemen Tusuk Sate

Oleh : Ir. Zakaria Bakrie, M.Si
(Kepala Badan Kesbangpol dan PLT Dinas Perikanan Kolaka Utara)

Bagikan :
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *