Nasional Tokoh

Saat Api Kecil Itu Menyala Pertama Kali

Oleh : Yarifai Mappeaty*)

Cerita Boge’ Meretas Jalan Menuju Bumi Praja Anduonohu

Di salah satu pojok halaman Gedung DPR/MPR, letaknya, tepat di seberang Lapangan Tembak Senayan, terdapat gedung sport center. Pojokan itu seolah sudah menjadi markas bagi komunitas Tenaga Ahli DPR RI asal Sulawesi Selatan dan Sulawesi tenggara, berkumpul setiap usai jam kantor.

Kala itu, 2017. Senja baru saja turun menyelimuti Senayan. Di atas sebuah kursi panjang, tampak seorang anak muda, duduk sendirian, seperti sedang menunggu. Oh, tidak. Ia sedang membaca sebuah dokumen tebal bertuliskan “Outlook Ekonomi Indonesia 2016” pada sampul depannya.

Dari judulnya saja sudah bisa ditebak kalau dokumen itu berisi angka-angka dan gambar grafik yang membuat pusing kepala dan sangat membosankan bagi mereka yang tidak punya ilmunya. Tetapi berbeda dengan anak muda itu, data-data statistik semacam itu adalah makanannya setiap hari. Maklum, ia Sarjana Ekonomi Pembangunan Universitas Hasanuddin dan Magister Ekonomi Regional Universitas Indonesia.

Meski usianya relatif muda, tapi kapasitasnya bukan kaleng-kaleng. Pernah menjadi Tenaga Ahli di DPR RI, mendampingi Ketua Badan Anggaran dan Wakil Ketua Komisi XI yang membidangi masalah Keuangan. Merasa pengalaman lima tahun sebagai Tenaga Ahli di DPR RI, sudah cukup, ia pun berhenti lalu mencari tantangan baru. Jadilah ia Tenaga Ahli Ketua BPK RI dari 2014 hingga 2017.

Dengan pengalaman yang demikian itu, tidak heran kalau Boge’ menjadi pakar di bidangnya. Ia memiliki kepakaran dalam pembangunan ekonomi nasional dan regional, termasuk pakar dalam masalah penyusunan dan pengawasan penggunaan anggaran belanja negara dan daerah.

Tetapi pada senja itu, kepalanya tampak berat, seperti ada yang sedang mengganggu pikirannya.

“Sudah lama, Ge’?” Seseorang menyapanya hingga ia tersentak. “Lumayan, Deng. Saya bahkan ikut berjamaah salat ashar di mushallah,” jawabnya.

Baca Juga  Prajurit Yonif 725/Woroagi Raih 3 Medali Emas di Kejuaraan Karate Nasional

Anak muda itu adalah Abdul Rahman Farisi, namun lebih suka dipanggil, Boge’. Menurutnya, itu panggilannya sejak dari kecil, diberikan sendiri oleh ayahnya. Apa artinya? Ia sendiri tak tahu. Tetapi begitulah cara ayahnya menunjukkan kasih sayangnya sejak dirinya masih balita.

“Apa yang kau fikirkan?” tanya orang yang baru datang itu lagi yang ternyata, Koneng. Begitu ia disapa, meski nama sebenarnya Aunurrafiq Khafrawy, alumni Teknik Sipil UMI Makassar. Di kalangan komunitas Tenaga Ahli DPR RI asal Sulsel dan Sultra, Koneng adalah sosok yang dituakan, seolah penasihat di komunitas itu. Ia kadang di sapa, “Kak”, kadang juga, “Deng”, oleh para juniornya, tak terkecuali, Boge’, yang berasal Sulawesi Tenggara. Sedangkan kata “Deng” sendiri adalah simplikasi dari kata “Daeng”, yang merupakan sebutan khas bagi orang Bugis Makassar.

Koneng tahu kalau Boge’ sedang serius memikirkan sesuatu. Itu terlihat dari dua gelas kopi sudah nyaris kering di atas meja di depannya. Belum lagi puntung rokok tampak berserakan di bawah meja. Padahal Koneng tahu kalau Boge’ tak terlalu doyan cafein, dan, juga bukan perokok berat.

Mendengar pertanyaan Koneng, Boge’ lantas menutup dokumen di hadapannya. Ia tampak menarik badannya ke belakang hingga sandar di kursi, lalu menghela nafas panjang.

“Saya baru saja mengikuti diskusi di Komisi VII, Deng. Saya benar-benar baru menyadari kalau Sulawesi Tenggara, kampung halamanku, termasuk provinsi termiskin di Indonesia,” jawabnya sambil mengisap rokoknya dalam-dalam, lalu sesekali mengepulkannya di udara.

Komisi VII adalah komisi strategis di DPR RI yang membidangi masalah pertambangan. Ketika disodori data pada saat diskusi, Boge’ merasa sulit menerima kenyataan bahwa Sultra termasuk provinsi miskin. Padahal, ia tahu betul kalau daerahnya itu adalah provinsi itu paling kaya dengan sumber daya alam mineral, terutama Nikel.

Baca Juga  Amnesty Internasional Nilai Polri Lakukan Tindakan Extrajudicial Killings Terhadap Laskar FPI

Bukan hanya itu, Sulawesi Tenggara juga memiliki potensi perikanan laut yang luar biasa, yang tidak dimiliki provinsi lain. Bayangkan, provinsi itu dikelilingi laut dari tiga penjuru mata angin. Di Barat, Teluk Bone. Di Selatan, Laut Flores. Sedangkan di Timur, lebih dahsyat lagi, ada Laut Banda yang berbatasan langsung dengan perairan Maluku. Dengan potensi sumber daya alam sebesar itu, maka Sulawesi Tenggara, tidak seharusnya menjadi provinsi miskin. Benar-benar sebuah paradoks.

“Itu salah satu dosa terbesar kita selaku generasi muda. Karena terlalu sibuk di rantau memikirkan Indonesia, sampai lupa dengan kampung sendiri,” ujar Koneng mulai memberi nasihat.

“Kalau lupa, saya kira tidak. Sebab, selama saya menjadi Tenaga Ahli di DPR dan di BPK sekarang, saya tidak jarang, bahkan terlalu sering terlibat langsung memberi asistensi kepada Pemerintah Daerah sana. Tetapi begitulah, tetap saja seperti itu, tidak ada juga kemajuan secara signifikan.”

“Tentu saja tidak ada kemajuan kalau hanya sebatas itu konstribusimu. Lain ceritanya kalau kamu sendiri penentu kebijakan di sana,” tandas Koneng membuat Boge tampak tercenung. Kata penentu kebijakan yang meluncur dari bibir Koneng seakan-akan mempengaruhi pikirannya.

“Deng, menurutmu, apakah saya layak menjadi Gubernur?” tanya Boge tiba-tiba dengan penuh semangat.

Seperti biasa di dalam memberi pendapat, Koneng jarang terlihat berapi-api, datar-datar saja, namun dalam dan penuh makna.

“Saya tidak meragukan kapasitasmu, Ge’. Kandidat yang muncul saat ini, saya yakin tidak ada satu pun melampaui kapasitasmu. Hanya saja, isi tas mereka mungkin lebih banyak dari pada yang kamu punya,” jawab Koneng kalem.

“Lantas, apa yang harus saya lakukan, Deng?”

“Api kecil yang mulai hidup di dadamu itu, nyalakan terus, jangan biarkan padam. Mulai saat ini, berfikirlah untuk meretas jalan menuju Bumi Praja Ondonuhu,” ujar Koneng kemudian berdiri, buru-buru ke belakang, ada yang tidak kuasa ia tahan.

Baca Juga  SE Kapolri: Tersangka Pelaku Ujaran Kebencian yang Minta Maaf Tidak Boleh Ditahan

Ditinggal Koneng, Boge’ kembali merenung. Api kecil yang tengah menyala di dadanya, ia rasakan mulai membesar dan terus membesar. Tak lama semenjak itu, nama dan wajah Boge’, tiba-tiba muncul menghiasi halaman media cetak dan online lokal Sultra. Diberbagai sudut Kota Kendari, berdiri baliho besar bertuliskan “ Abdul Rahman Farisi Calon Gubernur Sulawesi Tenggara 2018 -2023”.

Namun, beberapa bulan kemudian, Boge perlahan hilang dari peredaran dan tak lagi disebut-sebut dalam hubungannya dengan Pilgub Sultra. Koneng benar, Boge’ kalah dalam hal isi tas sehingga gagal mendapatkan partai politik yang bisa mengusung dirinya. Lagi dan lagi, terbukti bahwa demokrasi di negeri ini, kapasitas masih saja terus dikalahkan oleh isi tas.

Pilgub Sultra 2018 telah lama berlalu, sedangkan Pilgub 2023, tak lama lagi menjelang. Setelah lama tak bertemu, tiba-tiba teringat Boge. Saya lalu meraih hand phone dan mengirimkam sebuah pesan pendek.

“Masihkah api kecil itu menyala di dadamu, Ge’?” tulisku

“Resopa temmangingi namalomo naletei pammase dewata,” balasnya tak lama kemudian dengan falsafah Bugis klasik Nene’ Mallolmo. Artinya kurang lebih, “hanya dengan kerja keras yang pantang menyerah, membuat rahmat Tuhan turun pada kita.”

Jangan salah kira kalau Boge’ juga paham falsafah itu. Sebab, meski terlahir sebagai orang Muna, namun separuh hidupnya, ia jalani bersama orang-orang Bugis Makassar, baik sewaktu sekolah di Makassar, maupun selama tinggal dan hidup di Jakarta.

Jangan berhenti meretas jalanmu menuju Bumi Praja Ondonuhu, kawan (ym).

*) Penulis adalah sahabat Boge’ asal Bone; Aktivis Mahasiswa UNHAS Angkatan 80 an.

Bagikan :
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *