Gaya Hidup Ragam Sultra Wakatobi

Posepa’a, Budaya Baku Tendang Simbol Perang Lawan Hawa Nafsu di Bulan Ramadhan

DURASISULTRA.ID, WAKATOBI – Kabupaten Wakatobi dikenali sebagai salah satu dari Top 10 Destinasi Wisata Prioritas yang diidam-idamkan oleh para pelancong / turis sebagai wisata bahari terbaik. Tak hanya di Indonesia tapi juga mendunia. Kekayaan hayati yang melimpah di Wakatobi bahkan menggerakkan Word Wildlife Fund (WWF) untuk turun tangan dalam upaya pengelolaan dan pelestarian alam Wakatobi.

Namun tak hanya itu, Wakatobi juga memiliki banyak tradisi-tradisi budaya yang sampai saat ini masih dilestarikan oleh masyarakat setempat secara turun temurun.

Salah satunya Posepa’a (Baku Tendang) yang merupakan di antara karya masyarakat Liya pada masa Kesultanan dengan beradu kekuatan menggunakan kedua kaki oleh laki-laki dewasa maupun anak-anak yang diselenggarakan pada bulan suci Ramadhan dan Idul Adha, di sekitaran lapangan Benteng Liya Togo, Kecamatan Wangi-wangi Selatan, Kabupaten Wakatobi, Sulawesi Tenggara.

Posepa’a berasal dari bahasa daerah setempat atau bahasa Liya dengan kata dasar ‘Sepa’ yang artinya tendang. Penambahan awalan “po” dan akhiran “a” pada kata Posepa’a mengandung arti “sedang melakukan”.

Pada Zaman Dahulu, sebelum Atraksi Posepa’a dimulai, terlebih dahulu ditampilkan tari perang oleh pemangku adat Suku Liya yang dikenal masyarakat setempat dengan istilah Tari Honari Mosega Konon, yang merupakan simbol perang melawan hawa nafsu saat Ramadan.

Pak Adi (41), selaku tokoh masyarakat setempat mengungkapkan bahwa Posepa’a merupakan latihan kekuatan para prajurit muda Liya dalam mempertahankan wilayah kekuasaan dari ancaman lawan.

Posepa’a, dilakukan dengan berpegangan tangan dengan pasangan (ndai) secara berkelompok kemudian masing-masing kelompok masyarakat yang bertempat tinggal di atas dan di bawah (Amai Wawo dan Amai Woru) saling menendang dan mengejar hingga salah satu kelompok tercerai berai kemudian yang bertahan dan tetap berpegang tanganlah sebagai pemenangnya.

Baca Juga  Memanfaatkan Pekarangan Sempit Dengan Budikdamber

Amai Wawo adalah masyarakat yang berdomisili di bagian matahari terbit dan Amai Worua adalah masyarakat yang berdomisili di bagian matahari terbenam dari lapangan atau arena budaya Posepa’a. Kedua kelompok masyarakat tersebut adalah dua kubu yang dilegalkan sebagai peserta posepa’a.

Selama gerakan Posepa’a dilakukan teratur sesuai petunjuk pawang, diyakini tidak akan ada yang cedera meski sekeras dan sekuat apapun tendangan lawan mengenai badan.

Anak-anak, remaja dan dewasa bisa mengikuti ritual adat ini. Dahulu, budaya ini dilakukan pada awal Ramadhan, 1-10 ramadan diikuti oleh anak-anak, 11-20 ramadan diikuti oleh remaja dan 21-29 ramadan diikuti oleh orang dewasa. Namun saat ini, budaya ini hanya dilakukan saat Idul Fitri dan Idul Adha saja, atau sebagai ritual menyambut tamu-tamu penting yang datang ke Benteng Liya.

Satu Syawal (Idul Fitri) adalah puncak dari acara adat ini dan dilakukan oleh semua peserta baik anak-anak, remaja, dan dewasa. Dalam beraksi di budaya Posepa’a, bisa saja ada peserta yang mengalami luka bahkan mengeluarkan darah. Namun pertarungan itu tidak sampai memperpanjang masalah di luar arena.

Para petarung dalam arena tidak diwajibkan menyerang lawan ketika terjatuh.

“Bukan itu saja, setelah selesai melakukan ritual, meskipun ada masyarakat yang terluka atau cedera akan datang menemui dan saling memafkan,” ujar Pak Adi.

Di antara keunikan Budaya Posepa’a adalah tidak adanya juri atau keamanan di dalam arena atraksi tersebut, dan apabila ada pertengkaran antara pelaku budaya Posepa’a, para pelaku tersebutlah yang mengamankan dengan syarat bahwa tidak dalam posisi berpegangan tangan dengan teman pelaku Posepa’a.

Laporan: LNA

Editor: MAIM

Bagikan :
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *