Nasional Tokoh

Mengenal M. Natsir, Bapak NKRI: Riwayat Pendidikan, Perjuangan, Penghargaan & Pesan-pesan

Oleh: Mahardika Putra Emas (Pegiat ITJ Surabaya)

DURASISULTRA.ID, TOKOH – Dalam rangka mengenang sosok M. Natsir selaku pahlawan yang telah kembali menyatukan bangsa ini, dan juga guna menguak jejak jasa-jasa M. Natsir di benua Eropa, Afrika, Timur Tengah, wilayah Asia Timur hingga Pasifik Selatan, sekaligus mengenalkan M. Natsir sebagai role model yang tepat bagi generasi muda bangsa hari ini, maka saya coba susun Curriculum Vitae (CV) beliau dari 3 buku, yakni : “Biografi Mohammad Natsir” karya Lukman Hakiem, “Pesan Perjuangan Seorang Bapak” suntingan A.W. Pratiknya & “Setengah Abad Dewan Da’wah Berkiprah Mengokohkan NKRI” karya Tiar Anwar Bachtiar. C.V ini berisi tokoh inspirasi, daftar julukan, riwayat pendidikan, dan riwayat perjuangan serta prestasi beliau yang saya susun sejak tahun Pak Natsir masih SD hingga menjelang beliau wafat, sekaligus apa anugerah yang beliau dapatkan pasca kewafatannya. Saya berupaya cantumkan semua episode penting hidup beliau dan mengurutkannya dari tahun ke tahun. Harapannya dapat tergambar perkembangan kepribadian beliau & corak pemikiran serta gebrakan beliau dari masa ke masa. Biidznillah, semoga bermanfaat

  • Nama : Mohammad Natsir Datuk Sinaro Panjang
  • Tempat & tanggal lahir : Alahan Panjang, Solok, 17 Juli 1908
  • Tempat & tanggal wafat : Jakarta 6 Februari 1993
  • Orang tua :
    • Ayah : Idris Sutan Saripado
    • Ibu : Khadijah
  • Tokoh inspirasi : Ahmad Hassan, Haji Agus Salim, Syekh Ahmad Surkati, H.O.S Cokroaminoto
  • Julukan : Hati Nurani Umat, Maestro Dakwah, Bapak NKRI, Da’i Ilallah, Prince D’Islam
  • Kemampuan bahasa : Arab, Belanda, Inggris, Perancis, Latin
  • Pendidikan :
    • 1915 : Sekolah II (sekolah rakyat yang bahasa pengantarnya bahasa melayu) | Holand Inlandshe School (HIS) Adabiyah-swasta di Padang (didirikan oleh pejuang pergerakan)
    • 1916 – 1920 : HIS Pemerintah Belanda di Solok, Alahan Panjang (lulus tes uji coba) | Madrasah Diniyah Solok (sore hari) | Belajar Bahasa Arab & Kitab (malam hari)
    • 1920 – 1923 : HIS Pemerintah Belanda di Padang
    • 1923 – 1927 : Meer Uitgebreid Lager Onderwijs (MULO) Padang (lulus tes uji coba selama 3 bulan dengan nilai terbaik di kelasnya, karna itu mendapatkan beasiswa 20,00 Gulden/bulan)
    • 1927 – 1930 : Algemene MiddelbareSchool jurusan Westers Klassiete Afdeling (AMS A2) Bandung (diterima berdasarkan hasil raport saat MULO yang baik, karna itu mendapatkan beasiswa 30,00 Gulden/bulan)
    • 1927 – 1932 : Studi Islam pada Persatuan Islam (Persis) Bandung di bawah bimbingan Ustadz A. Hassan, Pemimpin & guru Persis
    • 1931 – 1932 : Kursus Guru Diploma Leger Onderwijs (LO)
  •  Riwayat Perjuangan :
    • 1919 (11 tahun) : Terpilih menjadi Guru Bantu untuk mengajar kelas satu diniyah dengan honor 10,00 Gulden
    • 1928 (20 tahun) : Juara 1 lomba deklamasi berbahasa Belanda dengan puisi karya Multatuli yang berjudul “De Bandjir” | Menghasilkan makalah berbahasa belanda yang menguak bukti-bukti nyata bahwa rakyat di jawa tidak mendapatkan keuntungan besar dari beroperasinya pabrik gula di Jateng & Jatim, justru terlilit utang yang terus menerus | Ketua pandu Natipij (Nationale Indoneisische Padvinderij)-JIB (Jong Islamiten Bond) Bandung, rutin memberikan ceramah  & melangsungkan debat | Menyusun bantahan terhadap pendeta Kristen-Protestan yang bernama Dr. Christoffel. Dimuat di surat kabar AID (Algemen Indish Dagblad). Oleh A. Hassan dijadikan buku dengan judul “Quran en Evangelie, Muhammad als Profeet”
    • 1929 (21 tahun) : Menjadi guru agama MULO & Sekolah Guru Gunung Sahari di Lembang dengan bahasa belanda
    • 1930 (22 tahun) : Menyusun diktat mata pelajaran agama Islam untuk pelajar Sekolah Menengah : “Kom Tot Het Gebed” (tentang shalat), Het “Islamieten Geloof” (tentang iman), “Golden Regels Uit den Quran” (Kalimat emas dari Qur`an), “De Islamietische Vrouwen Haar Recht” (Hak-hak seorang wanita Islam) | Redaktur majalah Pembela Islam dengan honor 20,00 Gulden/bulan | Anggota Partai Sarekat Islam Indonesia
    • 1931 (23 tahun) : Inisiator & pengajar kursus agama Islam
    • 1932 (24 tahun) :  Kepala sekolah swasta Pendidikan Islam Bandung hingga 1942
    • 1934 (26 tahun) : pada 30 Oktober 1964 menikah dengan Putti Nurnahar (anggota JIBDA : JIB Dames Afdeling, JIB bagian putri & guru Pendis)
    • 1937 (29 tahun) : Diangkat menjadi Wakil Ketua Persis | Menjadi Guru di Persis Bandung
    • 1938 (30 tahun) : Ketua Partai Islam Indonesia cabang Bandung
    • 1940 (32 tahun) : Menjadi anggota Dewan Rakyat (Volksraad) Kabupaten Bandung hingga 1942
    • 1942 (34 tahun) : Kepala Biro Pendidikan Kotapraja Bandung (Bandung Syiakusyo) hingga 1945
    • 1943 (35 tahun) : Kepala Majelis Islam (badan komunikasi guru agama, ulama & dai kota Bandung) | Sekretaris Dewan Pengurus Sekolah Tinggi Islam
    • 1945 (37 tahun) : Anggota BP-KNIP (Badan Pekerja – Komite Nasional Indonesia Pusat) hingga 1946 | Ketua panitia rekrutmen BP-KNIP | anggota Bagian Pemuda Partai Masyumi
    • 1946 – 1949 (38-41 tahun) : Menteri Penerangan RI pada 3 kabinet  | Penyusun pidato kenegaraan Presiden setiap momen 17 Agustus
    • 1948 (40 tahun) : anggota delegasi Indonesia pada Perjanjian Renville
    • 1949 (41 tahun) : Ketua delegasi pemerintah untuk berunding dengan PDRI | Anggota delegasi perundingan Inter-Indonesia | Menolak hasil KMB terkait Papua dalam sidang kabinet & memutuskan mundur sebagai Menteri Penerangan | Utusan RIS ke sejumlah daerah untuk merapatkan kontak antara RIS dengan negara-negara bagian | Ketua Fraksi Partai Masyumi 1949-1958
    • 1950 (42 tahun) : Anggota Formatur Kabinet RI | Anggota Panitia Lambang Negara : pengusul simbol bintang segi lima (Nur) untuk sila Ketuhanan yang Maha Esa | Diangkat sebagai Perdana Menteri pertama NKRI | Menginstruksikan diberikannya pelajaran agama di sekolah umum, lahir Peraturan bersama Menteri Pendidikan, Pengajaran & Kebudayaan dengan Menteri Agama | Meredam situasi genting di Maluku | Menganjurkan Mosi terkait situasi genting perang Vietnam, agar memunculkan kekuatan ketiga antara blok Soviet & blok Amerika Serikat; Menjernihkan arti politik luar negeri bebas aktif secara nyata serta merintis pemikiran ke arah pembentukan kekuatan ketiga | Diamanahkan menjadi Ketua Komite Solidaritas Perjuangan Aljazair | Membentuk serta menjadi Ketua Badan Pembantu Perjuangan Rakyat Tunisia | pada 3 April 1950, sebagai anggota perlemen Republik Indonesia Serikat, mengajukan mosi dalam sidang parlemen RIS yang kemudian dikenal dengan Mosi Integral Natsir dan dengan mosinya itu menyatukan kembali Indonesia di bawah naungan NKRI
    • 1951 (43 tahun) : Meredam situasi genting di Aceh | Mengundurkan diri dari jabatan Perdana Menteri
    • 1952 (44 tahun) : Mulai meninjau keadaan negeri-negeri kaum muslimin, di antaranya yang telah dikunjungi : Pakistan, Irak, Iran, Lebanon, Suriah, Arab Saudi, Mesir & Turki. Ditemani oleh A.R Baswedan & Anwar Harjono
    • 1955 (47 tahun) : Mewakili Masyumi dalam menandatangani pernyataan bersama 4 partai Islam, untuk tetap menjaga ukhuwah Islamiyah menjelang pemilu pertama
    • 1956 (48 tahun) : Diamanahkan sebagai Presiden Muktamar Alam Islami, bersama dengan Maulana Maududi dari Pakistan sebagai Wapres I & Abul Hasan An-Nadwi dari India sebagai Wapres II di Suriah | Ketua Fraksi Masyumi di Konstituante, menyampaikan pidato di parlemen berjudul “Islam sebagai Dasar Negara” | mendapat undangan dari Pemerintah Saudi untuk melakukan kunjungan ke Saudi Arabia, Jordania & Kuwait
    • 1957 (49 tahun) : Menerima Bintang tertinggi Tunisia (Nishan Iftikhar al-Akbar / Grand Gordon) dari Raja Tunisia, Lamine Bay, atas jasa Mohammad Natsir memperjuangkan kemerdekaan Tunisia | Mewakili Masyumi & bersama dengan perwakilan dari Partai NU, PSII, Partai Katolik, & Partai Rakyat Indonesia, menandatangani pernyataan tidak setuju terhadap konsepsi “Demokrasi Terpimpin” yang dicanangkan oleh Presiden Sukarno
    • 1958 (50 tahun) : Memprakarsai musyawarah dengan para komandan militer di Sumatera yang tergabung dalam Pimpinan Daerah Bergolak, untuk menyelesaikan carut marut kondisi politik & ekonomi nasional, diantaranya : retaknya hubungan dwitunggal, kondisi pembangunan di luar jawa yang belum berjalan, aksi-aksi keresahan di kalangan sipil & militer, menyusupnya Komunis ke istana, & ancaman perpecahan persatuan nasional. Mereka menyepakati dibentuknya kabinet baru untuk mencegah terjadinya perpecahan dalam skala besar, dengan mengajukan Sukarno sebagai Presiden, Hatta sebagai Perdana Menteri & Hamengkubuwono IX sebagai Wakil Perdana Menteri | Bergabung dalam Dewan Perjuangan yang bertujuan untuk menyelamatkan negara dari situasi genting akibat krisis politik & krisis ekonomi | Bertahan hidup di dalam hutan sumatera selama 3 tahun dengan rekan-rekan PRRI (1958-1961) untuk menghindari tindakan militer yang dikerahkan oleh pemerintah
    • 1961 (53 tahun) : Memperoleh Amnesti dari Pemerintah RI
    • 1962 (54 tahun) : Kembali ke Jakarta, lalu dipindahkan ke Kota Batu, Jatim, untuk menjalani karantina politik selama 2 tahun | Membantu perekonomian para kader & sahabat beliau dengan menginisiasi program-program workshop & mengirim utusan-utusan untuk menyalurkan modal usaha & kebutuhan harian bagi para sahabatnya yang membutuhkan
    • 1964 (56 tahun) : Kembali ke Jakarta, menjalani masa tahanan selanjutnya di Rumah Tahanan Militer Jakarta | Dari dalam Rumah Tahanan, melahirkan buku “Di Bawah Naungan Risalah” (Kisah-kisah inspiratif pada masa awal dakwah Islam oleh para sahabat) , “Indoktrinasi Usdek & Manipol (kritik Natsir terhadap konsepsi politik Presiden Sukarno & renungan terhadap perjalanan demokrasi di Indonesia pada awal kemerdekaan)
    • 1965 (57 tahun) : Dipindah ke rumah tahanan Wisma Keagungan Jakarta | Menulis surat kepada delegasi Konferensi Islam Asia Afrika, diterima oleh Ketua Delegasi Arab Saudi, yakni Raja Faisal Ibnu Abdul Aziz | Menulis surat kepada Perdana Menteri Malaysia, Tengku Abdul Rahman, agar bersedia menerima utusan Indonesia untuk memperbaiki hubungan Indonesia dengan Malaysia. Permintaan Natsir dituruti oleh PM Malaysia
    • 1966 (58 tahun) : Pada bulan Juli,  dibebaskan oleh Kejaksaan Agung dari tahanan politik setelah mendekam dalam karantina selama 4 tahun
    • 1967 (59 tahun) : Menjadi Ketua Umum Yayasan Dewan Dakwah Islamiyah Indonesia hingga 1993, sebuah wadah dakwah baru yang didirikan bersama Musyawarah alim ulama, dai/khatib & muballighin se-Jakarta, pada 26 Februari 1967 | Sejak 1967, di bawah kepemimpinan Natsir, DDII bekerjama dengan berbagai lembaga sosial di luar negeri, telah memfasilitasi pembangunan ratusan masjid & mushalla yang tersebar di berbagai pesantren, kampus perguruan tinggi, kompleks perumahan, daerah transmigrasi, kompleks rumah sakit, daerah suku terasing, kompleks pendidikan Kepolisian RI, & Lembaga pemasyarakatan. Selain itu, juga memfasilitasi pembangunan sekolah, madrasah, rumah sakit, panti asuhan, Islamic centre & pusat-pusat pelatihan keterampilan. Selain prasarana fisik, juga memprakarsai pembangunan insani, dengan mengirim mahasiswa untuk belajar ke sejumlah kampus di dalam maupun luar negeri, seperti Universitas Ibn Khaldun Bogor, Universitas Muhammadiyah Surakarta, Universitas Islam antar Bangsa Malaysia, Universitas Islam Madinah Munawwarah, Universitas Raja Saud Saudi Arabia, Universitas Al Azhar Mesir & Universitas Islam Internasional Pakistan | Ditunjuk sebagai Wakil Presiden Muktamar Alam Islami (Kongres Islam Sedunia) yang berpusat di Karachi, Pakistan, hingga 1993 | Berkontribusi dalam upaya pemulihan hubungan diplomatik antara Indonesia dengan Arab Saudi, melalui audiensi langsung dengan Raja Faisal di Thaif. Dalam kesempatan itu pula, Natsir menjawab tawaran bantuan dari Pemerintah Arab Saudi, yakni, Natsir mengajukan permintaan agar dikucurkan beasiswa khusus kepada pelajar-pelajar dari Indonesia yang meneruskan kuliahnya ke Arab Saudi | Menjadi salah satu perwakilan dari tokoh agama Islam dalam Musyawarah antar Golongan Agama, yang diselenggarakan oleh Pemerintah | Menyampaikan Pidato di MPRS yang berjudul “Demokrasi di Bawah Hukum”.
    • 1968 (60 tahun) : Memimpin kepanitiaan pendirian Rumah Sakit Islam Ibnu Sina di Bukittinggi | Diamanahi menjadi anggota Majelis Ta’sisi/Dewan Eksekutif Rabithah Alam Islami (Liga Muslim Sedunia) yang berpusat di Mekkah, Arab Saudi. Dengan kedudukannya itu Natsir kerapkali berbicara di seminar internasional, berkunjung ke pengungsian warga Palestina & meninjau medan pelatihan pejuang palestina | Menginisiasi penyaluran bantuan ke Palestina berupa ambulans, obat-obatan, selimut, berpeti-peti teh, dll, hingga 1993 | Mengumumkan digelarnya Yaum al-Masjid al-Aqsha di Jakarta pada rapat umum di Amman, Jordania
    • 1970 (62 tahun) : Bersama dengan beberapa mantan Menteri Agama R.I, mengirim surat kepada Paus Yohanes II ketika berkunjung ke Indonesia, yang isinya menyampaikan keresahan mengenai penetrasi misionaris/kristenisasi kepada kalangan umat Islam di Indonesia | Ketua Badan Penasihat Yayasan Pesantren Darul Falah Bogor | Anggota Dewan Kurator Universitas Islam Indonesia Yogyakarta | Anggota Pendiri Universitas Islam Bandung (Unisba) | Anggota Pendiri Universitas Islam Sumatera Utara (UISU) Medan | Ketua Penasihat Rumah Sakit Islam Ibnu Sina Bukittinggi | Dewan Penasihat Universitas Ibnu Khaldun Jakarta | Dewan Pendiri Rumah Sakit Islam Cempaka Putih Jakarta | Dewan Kurator Universitas Islam Jakarta
    • 1971 (63 tahun) : Mengupayakan bantuan modal dari Pemerintah Jepang untuk Pemerintah RI, juga menyarankan kepada Menteri Keuangan Jepang kala itu, Takeo Fukuda, agar Jepang mensponsori pembentukan konsorsium internasional sesuai Marshall Plan dalam rangka membantu pembangunan Indonesia. Selain itu, mengikuti saran Natsir, Fukuda di kemudian hari membentuk Yayasan Bantuan Fukuda untuk Somalia. Oleh karna perhatiannya pada dunia internasional & hubungan yang akrab dengan Pemerintah Jepang, Natsir ditunjuk menjadi penasihat resmi Pemerintah Jepang guna mengambil kebijakan internasional yang terkait dengan dunia Islam & isu-isu umum internasional lainnya  | Berjasa atas ditanamkannya modal dari Pemerintah Kuwait ke bidang perikanan laut RI, melalui surat yang diajukan oleh Natsir kepada Pemerintah Kuwait, setelah mendapatkan pesan dari Ali Murtopo (Asisten pribadi Presiden Soeharto) | Sejak pemilu 1971, hingga pemilu-pemilu berikutnya di masa Orde Baru, Natsir senantiasa menyerukan agar umat Islam tidak apatis pada politik & golput dalam penyelenggaraan pemilu
    • 1976 (68 tahun) : Menjadi pembicara dalam Konferensi Sirah Nabi di Pakistan dengan makalah berjudul “The Message of Islam to the Modern World” | Menjadi Pemimpin Sidang kelima “International Islamic Conference” di London | menjadi anggota Majlis ‘Ala al-Alami al-Masajid (Dewan Masjid Sedunia) yang berpusat di Mekkah, hingga 1993
    • 1977 (69 tahun) : Mendapat gelar Prince D’Islam (Pangeran Islam) dari Komunitas Muslim Dunia atas sumbangannya dalam memerangi kelaparan & ketidakpedulian yang terjadi di dunia
    • 1978 (70 tahun) : Menulis surat kepada Pimpinan & anggota MPR terkait gagasan P4 & aliran kepercayaan yang akan dimasukkan dalam GBHN | Menjadi Ketua Tim Penyelesaian Masalah Muslim Moro, Filiphina Selatan, dibentuk oleh OKI (Organisasi Konferensi Islam)
    • 1979 (71 tahun) : Menjadi bagian dari Badan Pendiri sekaligus Ketua Majelis Penyantun dari Yayasan 1400 Hijriah, yang memiliki maksud untuk melakukan segala kegiatan yang bertalian dengan pengkajian & penelitian masalah-masalah yang dihadapi umat Islam di Asia Tenggara & Pasifik selatan, serta mengupayakan sumbangan umat Islam dalam pembangunan di kawasan tersebut
    • 1980 (72 tahun) : Memprakarsai pembentukan LIPPM (Lembaga Islam untuk Penelitian & Pengembangan Masyarakat), bekerjasama dengan Rabithah Alam Islami perwakilan Jakarta & Universitas Griffith Australia. Salah satu fokus kajiannya ialah mengenai masalah missionaris atau kristenisasi. Dalam kiprahnya selama 10 tahun, telah menerbitkan beberapa buku, naskah yang belum terbit & sejumlah hasil penelitian lapangan | Menerima Anugerah King Faisal Award dari King Faisal Foundation pada 12 Februari 1980 di Arab Saudi, atas jasa-jasanya dalam bidang perkhidmatan Islam untuk tahun 1400 Hijriah | Ikut serta sebagai penandatangan Petisi 26, yang berisi butir-butir tuntutan kepada Pemerintah agar melaksanakan Pancasila &  UUD secara murni & konsekuen, serta menyelenggarakan pemilu yang lebih demokratis | Ikut serta sebagai penandatangan Petisi 50 yang berisi Pernyataan Keprihatinan 50 tokoh nasional atas kondisi politik & pemerintahan di bawah kepemimpinan Presiden Soeharto. Sekaligus ditunjuk bersama Ali Sadikin, menjadi penjelas Petisi tersebut melalui pidato di DPR/MPR. Karena keikutsertaannya itu, Natsir menjadi orang pertama yang ditindak keras oleh Pemerintah, yaitu tidak diizinkan berpergian ke luar negeri & anugerah gelar Doctor Honoris Causa dari Universiti Kebangsaan Malaysia yang akan Natsir terima, digagalkan oleh Pemerintah pada 1991
    • 1982 (74 tahun) : Termasuk dalam 54 tokoh umat Islam yang merumuskan “Tuntutan Bersama Tokoh-tokoh Umat Islam” atas diterbitkannya buku PMP (Pendidikan Moral Pancasila) untuk pendidikan dasar & menengah oleh Kemendikbud, yang berisi sejumlah bahaya pendangkalan aqidah. Natsir juga ditunjuk untuk menyampaikan pandangan & alternatifnya terhadap isu tersebut dihadapan Wakil Ketua DPR & Ketua Komisi Pendidikan. Atas ikhtiar bersama itu, akhirnya Pemerintah menarik buku PMP dari peredaran
    • 1986 (78 tahun) : Mempublikasikan tulisan berjudul : “Indonesia di Persimpangan Jalan” | anggota Dewan Pendiri al-Haiah al-Khairiyah al-Islamiyah al-‘Alamiyah yang berpusat di Kuwait
    • 1987 (79 tahun) : Anggota Dewan Pendiri Oxford Islamic Studies, Inggris | Anggota Dewan Kurator International Islamic University, Islamabad, Pakistan
    • 1988 (80 tahun) : Menginisiasi perumusan “Masterplan Pembangunan Umat”,  dikerjakan bersama sejumlah kader yang merupakan cendekiawan & akademisi dari beberapa perguruan tinggi selama 2 tahun. Masterplan ini menjabarkan berbagai tantangan dakwah beserta solusinya pada bidang sosial budaya, pendidikan, da’wah & informasi, pengembangan jama’ah & ukhuwah, sosial politik, ekonomi, dan iptek. Hasil perumusan ini kemudiam dirilis dengan judul “Khittah Da’wah Islam Indonesia”, lalu dibagikan ke sejumlah ormas & gerakan da’wah lain untuk menjadi panduan bersama.
    • 1993 : wafat pada 6 Februari 1993 di Jakarta pada usia 84 tahun
  • Riwayat Perjuangan :
    • 6 November 1998 : Menerima Bintang Republik Indonesia Adi Pradana dari Presiden RI Prof. B.J. Habibie
    • 26 Mei 2005 : Menerima penghargaan dari Dewan Masjid Indonesia (Dewan Masjid Award) sebagai Tokoh Manajemen Masjid Indonesia
    • 23 Desember 2005 : Menerima Bintang Penghargaan dari Presiden Republik Demokratik Nasional Aljazair, Abdul Aziz Bouliqah, atas jasa-jasanya membantu perjuangan kemerdekaan rakyat Aljazair
    • Mei 2007 : Menerima Bintang Keteladan Akhlak Mulia dari Komite Gerakan Masyarakat Peduli Akhlak Mulia
    • September 2007 : Menerima Penghargaan atas jasa-jasanya dalam memperjuangkan dakwah Islam di Indonesia & turut serta mendukung pendirian & pengembangan Masjid Salman ITB
    • 6 November 2008 : Dikukuhkan sebagai Pahlawan Nasional oleh Presiden RI Dr. H. Susilo Bambang Yudhoyono
  • Karya Tulis :
    • Capita Selecta (3 jilid)
    • Fiqhud Da’wah
    • Marilah Shalat
    • Islam sebagai Dasar Negara
    • Islam & Kristen di Indonesia
    • Kebudayaan Islam dalam Perspektif Sejarah
    • Agama & Negara dalam Perspektif Islam
    • Dibawah Naungan Risalah ,dll
  •  Pesan-Pesan Mohammad Natsir :

“Janganlah Pancasila dipergunakan untuk menentang terlaksananya kaidah-kaidah & ajaran yang termaktub dalam Qur`an, yaitu induk serba sila, yang bagi kaum Muslimin Indonesia menjadi pedoman hidup & pedoman matinya, yang ingin mereka sumbangkan kepada pembinaan bangsa & negara, dengan jalan parlementer & demokratis”

“Mulailah menyusun langkah barisan, menyamakan barisan di negeri kita sendiri, di samping jangan lupa mencari hubungan dengan generasi muda Islam di negeri-negeri lain. Nanti akan ada satu generasi umat Islam yang sudah diintegrasikan antara satu sama lain. Di situ kita tahu perjuangan kita. Di situ kita tahu bagaimana kayanya kita. Di situ kita akan memanfaatkan kekayaan & kekuatan itu untuk menegakkan kalimah Allah Subhanahu wa Ta’ala”

“…Sebab dalam menjalankan wajib dakwah, kami orang Islam memiliki code & ethik sebagai pedoman. Antara lain code & ethik ini menegaskan bahwa keyakinan agama tidak boleh (dan memang tidak bisa) dipaksakan. Tidak ada paksaan dalam keyakinan agama. Oleh karena itu dakwah harus dilakukan dengan kebijaksanaan (hikmah), dengan didikan yang baik-baik (mau’idzah hasanah), dan dengan bertukar fikiran dengan cara terbaik (mujadalah billati hiya ahsan).”

“Perlu diketahui bahwa Islam adalah agama mayoritas penduduk di negara kita, tapi banyak sekali umat Islam yang belum memahami Islam atau yang memahami Islam dari sudut lain yang dipengaruhi oleh konsepsi-konsepsi Barat. Dalam konteks pemahaman yang sering dilukiskan sebagai kehidupan duniawi & kehidupan spiritual misalnya, Islam tidak mengenal dikotomi ini. Islam memandang kehidupan manusiawi di dunia ini secara komprehensif, tidak ada pengkotak-kotakan kehidupan, termasuk dalam hubungan antara orang sebagai pribadi, sebagai warga masyarakat & sebagai warga negara.”

“Ada suatu proses rekayasa  (engineering) yang mengakibatkan peran, posisi & potensi umat Islam Indonesia menjadi makin “mini”, atau menurut istilah anda tadi, proses “marginasi”. Proses ini memang dikerjakan secara amat halus & amat sophisticated, sehingga sebagian besar umat & sebagian pemimpinnya kurang menyadari. Adapun tujuan rekayasa tersebut antara lain adalah untuk : mengaburkan pengertian yang benar tentang Islam, dalam rangka mendangkalkan aqidah umat; menumpulkan kepekaan umat terhadap masalah-masalah yang mestinya merupakan concern-nya seorang muslim; mengembangkan issue-issue apapun yang dapat melahirkan perpecahan umat (seperti kita ketahui ketahan umat sendiri dalam hal ini amat rapuh); mengurangi peran umat di berbagai aspek kehidupan berbangsa; mencoba mempertentangkan Pancasila dengan Islam (menurut pemahaman yang proporsional) & berbagai model rekayasa yang lain.”

  • Sumber :
    • “Biografi Mohammad Natsir : Kepribadian, Pemikiran & Perjuangan”, karya Lukman Hakiem, 2019
    • “Pesan Perjuangan Seorang Bapak”, suntingan A.W Pratiknya, 2019
    • “Setengah Abad Dewan Da’wah Berkiprah Mengokohkan NKRI”, karya Tiar Anwar Bachtiar, 2017
Bagikan :
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
Baca Juga  SE Kapolri: Tersangka Pelaku Ujaran Kebencian yang Minta Maaf Tidak Boleh Ditahan

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *